Sekretaris Eksekutif bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Pdt Jimmy Sormin. FOTO/IST
Sekretaris Eksekutif bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Pdt Jimmy Sormin menguraikan bahwa orang Indonesia perlu menyeimbangkan Antara kebebasan beragama Didalam etika sosial.
“Kita perlu mengingat dan menegakkan kembali prinsip yang ideal, bahwa kebebasan masing-masing individu juga dibatasi Didalam kebebasan orang lain. Hak dan kebebasan yang melekat Di setiap manusia itu perlu diatur agar diakui, dipenuhi, dan dilindungi Didalam Bangsa, yakni Melewati hukum yang telah berlaku,” kata Pdt Jimmy Sormin Untuk keterangannya dikutip, Minggu (19/5/2024).
Ia menambahkan, Melewati penegakkan hukum yang tegas dan adil, Komunitas bisa terdidik Sebagai hidup Untuk ketaatan Berencana hukum. Didalam Sebab Itu, kepatuhan Di hukum yang berlaku Berencana membantu memperkuat etika sosial Hingga Komunitas Indonesia.
Ketua Gugus Tugas Pemuka Agama BNPT ini mengatakan, sifat tenggang rasa adalah modal sosial yang telah diwariskan Dari nenek moyang bangsa Indonesia. Menurutnya, kesadaran Berencana etika sosial harus dihidupkan kembali Melewati praktik-praktik yang membangun Komunitas Sebagai saling peduli, menghargai, dan bekerja sama. Didalam Cara Itu, tidak terjadi lagi benturan Antara kebebasan beragama dan kenyamanan hidup bermasyarakat.
Bicara mengenai upaya membangun kesepahaman antarumat Didalam ragam keyakinan, Pdt. Jimmy Sormin mengapresiasi langkah Pemerintah Untuk menyisipkan nilai kebangsaan Di materi Pembelajaran formal maupun informal.
“Bangsa berkewajiban Sebagai memberi pengakuan, pemenuhan dan perlindungan hak Untuk setiap warganya, apapun agama dan keyakinannya. Segala bentuk upaya Pembaruan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan itu juga harus diiringi Didalam penegakan hukum yang tegas dan adil,” ujarnya.
Dia berharap agar Komunitas sipil dapat saling berkolaborasi Sebagai terus membangun ruang-ruang perjumpaan dan dialog, serta menghayati nilai-nilai Pancasila Untuk kesehariannya. Hal ini bisa diwujudkan Melewati upaya menyejahterakan kehidupan bersama, agar tidak terjadi jurang yang lebar antarkelas sosial, menghormati kemanusiaan sesama anak bangsa, serta Protes-Protes bersama Untuk merespons berbagai masalah yang terjadi Ditengah Komunitas.
Ketika ditanya tentang polemik penggunaan pengeras suara Tempattinggal ibadah yang terlalu keras, Pdt. Jimmy menanggapinya Didalam santai. Menurutnya, Komunitas Indonesia Memiliki akar Kearifan Lokal Global tenggang rasa yang cukup tinggi, Supaya mampu saling menghargai dan Memberi pengertian Untuk kehidupan bertetangga.
“Sebenarnya Hingga Komunitas kita umumnya Memiliki modal sosial yang sudah mengakar lama, yakni saling menghargai dan mengedepankan kepentingan bersama. Hanya saja hal tersebut perlu direvitalisasi. Sekalipun sudah ada peraturan Didalam Pemerintah, khususnya Didalam Kementerian Agama RI Yang Berhubungan Didalam hal tersebut, Akan Tetapi tanpa modal sosial tadi, peraturan dimaksud tidak Berencana ditaati Didalam sebagian warga Komunitas,” katanya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Kebebasan Beragama Perlu Menghargai Etika Sosial











