loading…
Umar Idris, Pegiat media Di Indonesian Institute of Journalism. Foto/Dok. SindoNews
Alumni Pascasarjana FEB Universitas Indonesia
Pegiat media Di Indonesian Institute of Journalism
Trophy Dunia 2026 tinggal menyisakan partai puncak. Spanyol dan Argentina Akansegera memperebutkan siapa yang terbaik Di dunia Di laga final yang digelar Di New Jersey Di 20 Juli mendatang. Miliaran pasang mata Untuk seluruh dunia tertuju Di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tiga Negeri yang Sebagai pertama kalinya menjadi tuan Tempattinggal bersama Kejuaraan sepak bola terbesar Di planet ini.
Di Ditengah hiruk pikuk itu, Ri Prabowo Subianto justru menyampaikan kegelisahan yang berbeda. Pada Melakukan Langkah biodiesel B50 Di Karawang, Jawa Barat, awal Juli lalu, Prabowo blak-blakan mengaku belum puas Di capaian sepak bola nasional. Ia mengatakan Indonesia sudah mampu memproduksi bahan bakar nabati generasi terbaru, tetapi belum juga mampu mengantarkan Regu Nasional Di putaran final Trophy Dunia.
Ri Malahan secara terbuka menagih pertanggungjawaban Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan meminta Purbaya Yudhi Sadewa memikirkan Pemberian Dana yang diperlukan. Pesan itu sederhana Tetapi tajam: sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan diarahkan menjadi Langkah pembangunan nasional.
Keresahan Ri ini layak menjadi pintu masuk Sebagai membedah persoalan yang lebih struktural, yaitu bagaimana institusi Aktivitasfisik bekerja, seberapa besar nilai sosial-ekonomi yang sesungguhnya dipertaruhkan sebuah bangsa ketika berbicara soal sepak bola. Serta mengapa Indonesia Di basis Penggemar terbesar Di dunia tetap kesulitan menembus panggung dunia.
Nilai ekonomi Trophy Dunia memang fantastis Di atas Kertas. Laporan FIFA World Cup 2026 ‘Socioeconomic Impact Analysis’ yang disusun bersama Organisasi Perdagangan Dunia dan lembaga Kajian OpenEconomics memproyeksikan Kejuaraan ini memutar ekonomi Dunia hingga USD80,1 miliar, menyumbang hampir USD41 miliar Pada PDB dunia, dan menciptakan Di 824.000 lapangan kerja Mutakhir.
Amerika Serikat, sebagai penyelenggara mayoritas Kejuaraan, diperkirakan menikmati tambahan PDB Di USD17 miliar dan ratusan ribu lapangan kerja Mutakhir. FIFA sendiri diproyeksikan meraup pendapatan Di USD8,9 miliar Untuk Trophy Dunia kali ini, jauh lebih besar dibandingkan Sebelumnya.
Tetapi angka-angka besar itu perlu dibaca Di hati-hati. Sejumlah ekonom yang menekuni event Aktivitasfisik, salah satunya Victor Matheson Untuk Holy Cross University, AS, mengingatkan bahwa dampak ekonomi Trophy Dunia sering kali dilebih-lebihkan Dari tuan Tempattinggal Trophy Dunia. Padahal uang tiket senilai ratusan Usd sebagian besar Datang Di kantong FIFA, bukan berputar Di ekonomi lokal.
Simon Rottenberg (1956) Untuk Journal of Political Economy menambahkan Konsep “uncertainty of outcome hypothesis”, yang Berkata nilai ekonomi sebuah Kejuaraan ditentukan Dari ketidakpastian hasil Kejuaraan; Lebihterus Bersaing dan tidak terprediksi sebuah Perserikatan, Lebihterus tinggi pula minat penonton dan nilai komersialnya. Prinsip ini menjelaskan mengapa Perserikatan-Perserikatan Eropa yang Bersaing seperti Perserikatan Primer Inggris mampu menjual hak siar Di ratusan Negeri, Sambil Perserikatan Di dominasi segelintir Regu cenderung kehilangan daya tarik jangka panjang.
Samping Itu, ada Konsep multiplier effect yang sering dipakai Sebagai memproyeksikan dampak event Aktivitasfisik besar, yaitu asumsi bahwa setiap Usd yang dibelanjakan penonton Akansegera berputar beberapa kali Di perekonomian lokal lewat hotel, restoran, dan transportasi. Tetapi studi University of Toronto Malahan mencatat 12 Untuk 14 edisi Trophy Dunia terakhir justru menghasilkan kerugian ekonomi neto Untuk tuan Tempattinggal jika seluruh biaya infrastruktur dihitung.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Ekonomi Trophy Dunia dan Problem Institusi Di Indonesia











