Jakarta –
Sebuah studi yang diterbitkan Di jurnal medis JAMA Di 2023 menemukan bahwa riwayat Merasakan upah rendah dapat dikaitkan Bersama peningkatan risiko kematian Di usia paruh baya Di pekerja Di Amerika Serikat.
Pekerja paruh baya yang secara konsisten Merasakan upah rendah Memiliki risiko meninggal 38 persen lebih tinggi Di periode 12 tahun dibandingkan Bersama rekan seusianya yang memperoleh upah lebih tinggi. Analisis tersebut melibatkan Disekitar 4.000 pekerja yang berusia setidaknya 50 tahun Pada Eksperimen dimulai dan diikuti Pada 12 tahun.
“Pekerja berupah rendah lebih Bisa Jadi bekerja Di pekerjaan yang Menyediakan “sedikit atau Justru tidak Menyediakan tunjangan Kesejaganan dan Perbankan”, sekaligus Berusaha Mengatasi risiko bahaya Di tempat kerja yang lebih besar,” kata Katrina Kezios Di Columbia University, salah satu penulis studi, kepada CBS MoneyWatch Lewat email.
“Merasakan upah rendah Lebihterus diakui sebagai persoalan Kesejaganan Komunitas. Terdapat sejumlah Aturan yang dapat secara langsung memengaruhi upah per jam, seperti aturan mengenai upah minimum,” ujar Kezios.
Kezios menjelaskan, Eksperimen tersebut tidak secara khusus Membahas Aturan upah minimum. Akan Tetapi, para peneliti ingin Menunjukkan potensi dampak buruk kumulatif Pada Kesejaganan akibat Merasakan upah rendah sepanjang kehidupan seorang pekerja.
Temuan tersebut, menurut Kezios, dapat Menunjukkan perlunya Merencanakan perubahan Aturan yang bertujuan Memperbaiki upah Supaya Di akhirnya dapat memperbaiki Kemakmuran Kesejaganan Komunitas.
Di Eksperimen ini, pekerjaan berupah rendah didefinisikan sebagai pekerjaan Bersama penghasilan Di bawah upah per jam yang setara Bersama garis Kemiskinan Global federal AS Sebagai keluarga beranggotakan empat orang, yang Pada itu mencapai US$30.000 per tahun atau setara Disekitar Rp535 juta Bersama kurs Pada ini, atau US$14,42 per jam atau Disekitar Rp257 ribu, Sebagai pekerjaan penuh waktu sepanjang tahun.
Para peneliti menemukan bahwa warga Amerika yang bekerja Di pekerjaan berupah rendah Di jangka panjang cenderung merupakan kelompok kulit hitam atau Hispanik, lebih banyak perempuan, serta Memiliki Belajar kurang Di 12 tahun.
Walaupun Eksperimen tersebut tidak Membahas risiko kematian berdasarkan Bangsa Pada, pekerja Bersama risiko kematian tertinggi cenderung merupakan mereka yang lahir Di Area Selatan AS. Bangsa-Bangsa Pada Di AS Memiliki aturan upah minimum yang sangat beragam, Bersama upah minimum dasar yang umumnya lebih rendah Di Area Selatan dan Barat.
Menurut Kezios, hubungan Di upah rendah dan peningkatan risiko kematian Di usia paruh baya kemungkinan terjadi “Lewat berbagai mekanisme”.
Akan Tetapi, ia menegaskan bahwa Eksperimen tersebut belum menguji jalur atau mekanisme spesifik yang menyebabkan hubungan Di upah rendah yang berlangsung terus-menerus dan risiko kematian. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu aspek penting yang perlu diteliti Lebih Jelas.
(suc/suc)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Terungkap Lewat Studi, Pekerja Bergaji Rendah Punya Risiko Kematian Lebih Tinggi









