Sejumlah Negeri, termasuk Indonesia, dinilai paling Bertahan atas dampak Konflik Bersenjata dagang dan Pembatasan ekonomi skala besar. FOTO/Ilustrasi
Di studi tersebut, para analis menilai kerugian langsung produk domestik bruto (PDB) yang Akansegera dialami setiap Negeri jika dihadapkan Di blokade perdagangan total tanpa adanya kemungkinan Perdagangan Masuk Negeri paralel. Studi tersebut mengungkapkan bahwa Kendati semua Negeri Akansegera Merasakan kontraksi ekonomi berdasarkan skenario yang diusulkan, beberapa Negeri Akansegera terkena dampak yang lebih buruk dibandingkan Negeri lain.
Mengutip Russia Today, Minggu (19/5/2024), Rusia menjadi salah satu Didalam tiga Negeri yang paling tangguh, Didalam perekonomian yang menyusut tidak lebih Didalam 3,5%. Dua lainnya adalah China Didalam PDB yang hanya Akansegera Merasakan penurunan sebesar 3,1% dan Amerika Serikat (AS) yang PDB-nya Akansegera Merasakan penurunan sebesar 2,3%.
Sambil Itu, Jerman, Prancis, dan Inggris Akansegera terkena dampak yang lebih parah. Perekonomian Jerman terkena dampak terburuk jika hubungan dagangnya terputus dan Akansegera Merasakan kontraksi sebesar 8,1%. Kerusakan yang signifikan juga Akansegera dialami Dari Korea Selatan (turun 7,9%), Meksiko (7,2%), Perancis (7%), Turki (6,6%), Italia (6%) dan Inggris (5,7%).
Studi ini juga menemukan bahwa perekonomian Australia, Indonesia, dan Jepang hanya Akansegera Merasakan kontraksi sebesar 3,7-3,8% yang membuat Negeri-Negeri tidak terlalu rentan Di Pembatasan perdagangan dibandingkan India, Brasil, dan Kanada, yang Merasakan penurunan PDB sebesar 4%, 4,2%, dan 5,5%.
Para analis mengaitkan kinerja stress-test yang relatif baik Didalam perekonomian Amerika, China, dan Rusia Didalam Indeks Gabungan Kapabilitas Nasional bersyarat, yang menjelaskan bahwa Negeri-Negeri ini Memperoleh sumber daya alam, serta potensi manusia, ilmu pengetahuan, dan militer yang lebih besar dibandingkan Negeri-Negeri lain.
Mengomentari temuan tersebut, Stanislav Murashov, Kepala Ekonom Di Raiffeisenbank, mencatat bahwa ketika Berjuang Didalam pembatasan ekonomi, Negeri-Negeri yang paling sedikit terkena dampak Akansegera menjadi pihak yang paling siap.
“Pemenangnya adalah yang Secara Keseluruhan, bersiap Berjuang Didalam (pembatasan) Didalam melokalisasi produksinya, atau yang mampu, misalnya, meninggalkan beberapa komponen, suku cadang, bahan mentah, peralatan yang diimpor. Dilihat Didalam Studi tersebut, kemungkinan tesis terkonfirmasi bahwa Eropa lebih bergantung Di pasar Internasional dibandingkan China, Amerika Serikat, dan Rusia,” katanya kepada harian berita Kommersant.
Hasil studi ini seakan menjelaskan mengapa perekonomian Rusia, yang telah terkena berbagai Pembatasan ekonomi internasional akibat konflik Ukraina, mampu bertahan. Ekonomi Rusia yang awalnya Merasakan kontraksi sebesar 1,2% Di tahun 2022, tahun lalu pulih Didalam mencatat Perkembangan sebesar 3,6%.
Justru, Di kuartal pertama tahun 2024 PDB Rusia mampu tumbuh sebesar 5,4% (yoy). Dana Moneter Internasional (IMF) Mengungkapkan Di bulan lalu bahwa mereka Meramalkan perekonomian Rusia Akansegera tumbuh sebesar 3,2% tahun ini, sebuah proyeksi yang menempatkan Negeri tersebut Di Di sejumlah Negeri besar Di Barat, termasuk AS (2,7%), Inggris (0,5%), Perancis (2,7%), dan Jerman (0,2%).
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Negeri-Negeri Ini Paling Bertahan Di Konflik Bersenjata Dagang, RI Termasuk!











